Selasa, 10 Maret 2015

MENUJU PUNCAK TAMBORA




Our Address :
 Jl. Amir Hamzah No. 11 Karang Sukun – Mataram, Lombok 83121, NTB Indonesia
P : 0370 639444 / 081 76639444
M : nikatourstravel@gmail.com

Pertama, dengan  menggunakan pesawat ke Bandara ‘Sultan Salahudin Bima’, dari BIL “Lombok” selama 35 menit anda sampai di Bima kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Cabang Banggo Dompu selama 2 jam sekitar kurang lebih 60 km, selanjutnya menuju Desa Pancasila di belahan Barat Gunung Tambora  menghabiskan waktu sekitar 4 jam perjalanan.

Kedua,  dengan mobil dari Mataram ke Kayangan Port dan lintas ke Alas dengan Kapal /Ferry ke Pototano Port kemudian ke Cabang Banggo Kabupaten Dompu  menuju Desa Pancasila sekitar +/- 14 jam.

Tahun 2015 Tambora Menyapa Dunia - Kompas.com

Untuk menuju ke Gunung Tambora ada 3 titik konsentrasi desa-desa sekitar lereng Gunung Tambora. Di timur adalah Desa Sanggar, ke arah laut adalah Desa Doro Peti dan Desa Pesanggrahan, dan di barat adalah Desa Calabai.
Melakukan pendakian ke Gunung Tambora disarankan melalui jalur resmi, yaitu melewati  ‘Calabai’  Dusun Pancasila yang relatif lebih aman. Anda dapat menggunakan kendaraan dari Cabang Banggo (Mbanggo) di Kabupaten Dompu, dengan jarak tempuh kurang lebih selama tiga (3)  jam perjalanan . Berikutnya dapat menginap di basecamp milik Bapak Saiful Bahri ,
                                                                         
guide dari K-PATA & TAMBORA TREKKING CENTRE Dusun Pancasila Desa Tambora Kec. Pekat Kab.Dompu, untuk pendakian ke Gunung Tambora.

Pos V – Kawah/SUMMIT ‘2851 M’ (3,5 jam).
Hutan Tropis dengan vegetasi Edelweis dan gurun
↑
Pos IV - Pos V ‘2080 m’ (2 jam)
Hutan Tropis
↑
Pos III - Pos IV ‘1900 m’ (1,5 jam)
Hutan Tropis
↑
Pos II - Pos III ‘1600 M’ (2,5 jam)
Hutan tropis di seluruh langsung ke Pos II, ada mata air
↑
Pos I - Pos II ‘1280 M’ (2 jam)
Pos II- di sana kita akan menemukan sungai kecil
↑
Pancasila Village - Pos I ‘1200 M’ (3,5 jam)
Di Pos I, ada basecamp dan mata air

↑
POS pendakian Gunung Tambora
Dusun Pancasila
                                                                                                                                                                               
.                                  
Perjalanan dari Dusun Pancasila menuju ke Pos I  ditempuh selama 3,5 jam yang mana di Pos I ‘1200M’  ada basecamp dan sumber mata  air, dari Pos I perjalanan menuju ke Pos II dapat di tempuh selama 2 jam. Berikutnya dari Pos II ‘1280M’ melanjutkan perjalanan ke Pos III  melalui hutan lebat selama 2,5 jam. Di Pos III ‘1600M’ dapat juga mengambil air sebagai bekal perjalanan selanjutnya. Dari Pos III menuju ke Pos IV ‘1900M’ ditempuh selama 1,5jam, kemudian dari Pos IV menuju ke Pos V, ‘2080M’ ditempuh selama 2 jam. Dari Pos V menuju Puncak  SUMMIT, ‘2851M’ ke bibir kawah Tambora dapat ditempuh selama 3,5 jam, di sinilah akan Anda dapati vegetasi bunga edelweiss sebagaimana habitatnya

Mencapai Puncak, menikmati terbitnya Matahari, menikmati suasana alami dan beragam margasatwa terutama rusa, babi hutan, sapi liar, kerbau, monyet, landak, biawak, musang, kura-kura, dan juga berbagai jenis burung seperti kakaktua kepala putih, nuri merah, ayam hutan, elang, dan gagak dan sebagainya

 


***
Sunting-sunting sumber , tambora 'internet'.




Senin, 02 Maret 2015

TAMBORA MENYAPA DUNIA
 http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/


Tambora Menyapa Dunia Tahun 2015 merupakan peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. yang terjadi dua abad lampau, terekam dalam sejarah manusia sebagai salah satu letusan terdahsyat yang pernah terjadi di muka bumi. Gunung tambora terletak di sebuah pulau kecil yang berada di gugusan kepulauan sunda kecil yang bernama Sumbawa. Menurut seorang Ahli gunung api dari Universitas Rohde Island, Haraldur Sigurdson inilah erupsi yang paling banyak di teliti dalam sejarah. - See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/kedahsyatan-letusan-gunung-tambora-dua-abad-lalu-menggemparkan-dunia/#sthash.EONChwcU.dpuf

Tambora Menyapa Dunia Tahun 2015 merupakan peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. yang terjadi dua abad lampau, terekam dalam sejarah manusia sebagai salah satu letusan terdahsyat yang pernah terjadi di muka bumi. Gunung tambora terletak di sebuah pulau kecil yang berada di gugusan kepulauan sunda kecil yang bernama Sumbawa. Menurut seorang Ahli gunung api dari Universitas Rohde Island, Haraldur Sigurdson inilah erupsi yang paling banyak di teliti dalam sejarah.
Berdasarkan hasil penelitian Letusan Gunung Tambora sepuluh kali lebih dahsyat dibanding letusan Krakatau dan seratus kali lebih besar dari letusan Gunung Vesuvius dan St. Helens. Sekitar 100 ribu orang menjadi korban akibat letusan ini, tiga kerajaan terkubur dalamtimbunan erupsi yaitu kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar. Sidgurdsson mengatakan bahwa material erupsi naik hingga 43 km ke atmosfir. bayangkan ketinggian ini sekitar 10 kali lebih tinggi dari ketinggian pesawat terbang komersial mengeluarkan batuan panas cair dalam bentuk abu dan batu apung dengan volume 100 km3. Jumlah tersebut jauh lebihbesar disbanding volume erupsi vulkanik lainnya yang direkam dalam sejarah manusia.
Sejarah kedahsyatan tambora dimulai ketika tahun 1812, kaldera Tambora bergemuruh dan mengeluarkan awan hitam. Pada 5 april 1815, letusan dengan kekuatan sedang terjadi, diikuti dengan bunyi letusan menggelegar. Pada pagi hari 6 April 1815 debu vulkani k jatuh di jawa Ti mur yang di iringi suara samar seperti dentuman setonator dan berlangsung hingga 10 april 1815. Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 di Pulau Sumatra (jarak dari Tambora sekitar 2600 km) suara yang terdengar seperti l etusan senjata api, demi kian ki ra-kira kronologis kedahsyatan letusan Tambora yang terekam dari cerita
Letusan ini menghasilkan awan panas sekitar 400 juta ton diantaranya bumi tidak mengalami musim panas dalam tahun itu. Kejadi an i ni di kenal dengan istil ah “ year without summer”. Keti ka gas be reaksi dengan kandungan air di atmosfi r, reaksi menghasilkan kelam di ufuk. Sinar senja langit muncul oranye atau merah dekat cakrawala langit merah muda dan warna jingga. Di London, anatar 28 Juni sampai 2 juli 1815 serta 3 September sampai 7 Oktober 1815, orang- orang melihat sinar matahari berwarna-warni saat tenggelam di ufuk. Sinar matahari pada senja hari terlihat oranye hal demikian terpapar di cakrawala langit terlihat merah muda mendekati jingga.
Gunung Tambora sebagai warisan dunia dengan sejarah kedahsyatan letusannya kini telah menjadi epic. Dua abad sudah, peristiwa dahsyat tersebut berlalu, Tambora telah menorehkan sejarah dahsyat dan merubah tatanan masyarakat serta alam pada waktu itu. Cerita epic tersebut kini sangat menarik perhatian ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk mengkaji ulang melalui serangkaian penelitian dan penelusuran literature, untuk mempertautkan potongan-potongan cerita dari mulut kemulut dan manuskrip yang ditemukan. Serangkaian penelitian Arkeologis dan Vulkanologis mengawali pembuktian secara ilmiah epic tersebut.
- See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/kedahsyatan-letusan-gunung-tambora-dua-abad-lalu-menggemparkan-dunia/#sthash.EONChwcU.dpuf
Tambora Menyapa Dunia Tahun 2015 merupakan peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. yang terjadi dua abad lampau, terekam dalam sejarah manusia sebagai salah satu letusan terdahsyat yang pernah terjadi di muka bumi. Gunung tambora terletak di sebuah pulau kecil yang berada di gugusan kepulauan sunda kecil yang bernama Sumbawa. Menurut seorang Ahli gunung api dari Universitas Rohde Island, Haraldur Sigurdson inilah erupsi yang paling banyak di teliti dalam sejarah.
Berdasarkan hasil penelitian Letusan Gunung Tambora sepuluh kali lebih dahsyat dibanding letusan Krakatau dan seratus kali lebih besar dari letusan Gunung Vesuvius dan St. Helens. Sekitar 100 ribu orang menjadi korban akibat letusan ini, tiga kerajaan terkubur dalamtimbunan erupsi yaitu kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar. Sidgurdsson mengatakan bahwa material erupsi naik hingga 43 km ke atmosfir. bayangkan ketinggian ini sekitar 10 kali lebih tinggi dari ketinggian pesawat terbang komersial mengeluarkan batuan panas cair dalam bentuk abu dan batu apung dengan volume 100 km3. Jumlah tersebut jauh lebihbesar disbanding volume erupsi vulkanik lainnya yang direkam dalam sejarah manusia.
Sejarah kedahsyatan tambora dimulai ketika tahun 1812, kaldera Tambora bergemuruh dan mengeluarkan awan hitam. Pada 5 april 1815, letusan dengan kekuatan sedang terjadi, diikuti dengan bunyi letusan menggelegar. Pada pagi hari 6 April 1815 debu vulkani k jatuh di jawa Ti mur yang di iringi suara samar seperti dentuman setonator dan berlangsung hingga 10 april 1815. Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 di Pulau Sumatra (jarak dari Tambora sekitar 2600 km) suara yang terdengar seperti l etusan senjata api, demi kian ki ra-kira kronologis kedahsyatan letusan Tambora yang terekam dari cerita
Letusan ini menghasilkan awan panas sekitar 400 juta ton diantaranya bumi tidak mengalami musim panas dalam tahun itu. Kejadi an i ni di kenal dengan istil ah “ year without summer”. Keti ka gas be reaksi dengan kandungan air di atmosfi r, reaksi menghasilkan kelam di ufuk. Sinar senja langit muncul oranye atau merah dekat cakrawala langit merah muda dan warna jingga. Di London, anatar 28 Juni sampai 2 juli 1815 serta 3 September sampai 7 Oktober 1815, orang- orang melihat sinar matahari berwarna-warni saat tenggelam di ufuk. Sinar matahari pada senja hari terlihat oranye hal demikian terpapar di cakrawala langit terlihat merah muda mendekati jingga.
Gunung Tambora sebagai warisan dunia dengan sejarah kedahsyatan letusannya kini telah menjadi epic. Dua abad sudah, peristiwa dahsyat tersebut berlalu, Tambora telah menorehkan sejarah dahsyat dan merubah tatanan masyarakat serta alam pada waktu itu. Cerita epic tersebut kini sangat menarik perhatian ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk mengkaji ulang melalui serangkaian penelitian dan penelusuran literature, untuk mempertautkan potongan-potongan cerita dari mulut kemulut dan manuskrip yang ditemukan. Serangkaian penelitian Arkeologis dan Vulkanologis mengawali pembuktian secara ilmiah epic tersebut.
- See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/kedahsyatan-letusan-gunung-tambora-dua-abad-lalu-menggemparkan-dunia/#sthash.EONChwcU.dpuf
 
Tambora Menyapa Dunia Tahun 2015 merupakan peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. yang terjadi dua abad lampau, terekam dalam sejarah manusia sebagai salah satu letusan terdahsyat yang pernah terjadi di muka bumi. Gunung tambora terletak di sebuah pulau kecil yang berada di gugusan kepulauan sunda kecil yang bernama Sumbawa. Menurut seorang Ahli gunung api dari Universitas Rohde Island, Haraldur Sigurdson inilah erupsi yang paling banyak di teliti dalam sejarah.
Berdasarkan hasil penelitian Letusan Gunung Tambora sepuluh kali lebih dahsyat dibanding letusan Krakatau dan seratus kali lebih besar dari letusan Gunung Vesuvius dan St. Helens. Sekitar 100 ribu orang menjadi korban akibat letusan ini, tiga kerajaan terkubur dalamtimbunan erupsi yaitu kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar. Sidgurdsson mengatakan bahwa material erupsi naik hingga 43 km ke atmosfir. bayangkan ketinggian ini sekitar 10 kali lebih tinggi dari ketinggian pesawat terbang komersial mengeluarkan batuan panas cair dalam bentuk abu dan batu apung dengan volume 100 km3. Jumlah tersebut jauh lebihbesar disbanding volume erupsi vulkanik lainnya yang direkam dalam sejarah manusia.
Sejarah kedahsyatan tambora dimulai ketika tahun 1812, kaldera Tambora bergemuruh dan mengeluarkan awan hitam. Pada 5 april 1815, letusan dengan kekuatan sedang terjadi, diikuti dengan bunyi letusan menggelegar. Pada pagi hari 6 April 1815 debu vulkani k jatuh di jawa Ti mur yang di iringi suara samar seperti dentuman setonator dan berlangsung hingga 10 april 1815. Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 di Pulau Sumatra (jarak dari Tambora sekitar 2600 km) suara yang terdengar seperti l etusan senjata api, demi kian ki ra-kira kronologis kedahsyatan letusan Tambora yang terekam dari cerita
Letusan ini menghasilkan awan panas sekitar 400 juta ton diantaranya bumi tidak mengalami musim panas dalam tahun itu. Kejadi an i ni di kenal dengan istil ah “ year without summer”. Keti ka gas be reaksi dengan kandungan air di atmosfi r, reaksi menghasilkan kelam di ufuk. Sinar senja langit muncul oranye atau merah dekat cakrawala langit merah muda dan warna jingga. Di London, anatar 28 Juni sampai 2 juli 1815 serta 3 September sampai 7 Oktober 1815, orang- orang melihat sinar matahari berwarna-warni saat tenggelam di ufuk. Sinar matahari pada senja hari terlihat oranye hal demikian terpapar di cakrawala langit terlihat merah muda mendekati jingga.
Gunung Tambora sebagai warisan dunia dengan sejarah kedahsyatan letusannya kini telah menjadi epic. Dua abad sudah, peristiwa dahsyat tersebut berlalu, Tambora telah menorehkan sejarah dahsyat dan merubah tatanan masyarakat serta alam pada waktu itu. Cerita epic tersebut kini sangat menarik perhatian ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk mengkaji ulang melalui serangkaian penelitian dan penelusuran literature, untuk mempertautkan potongan-potongan cerita dari mulut kemulut dan manuskrip yang ditemukan. Serangkaian penelitian Arkeologis dan Vulkanologis mengawali pembuktian secara ilmiah epic tersebut.
- See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/kedahsyatan-letusan-gunung-tambora-dua-abad-lalu-menggemparkan-dunia/#sthash.EONChwcU.dpuf



http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/wp-content/uploads/2015/02/buku-panduan-Tambora-3_14.jpg


    








  • Roadmap Tambora Menyapa Dunia 2015 - Peringatan Dua Abad Meletusnya Gunung Tambora (1815-2015)

  • Roadmap Tambora Menyapa Dunia 2015 - Peringatan Dua Abad Meletusnya Gunung Tambora (1815-2015)

Jumat, 20 Februari 2015

'fantastic' Stone

'bullstone' from the Sea,

    Pantai Medane KLU NTB                
    relief in


     episode 'art & nature'

     from, retmanAlbum

Hasil gambar untuk batu bolong lombok Batu Bolong n Pura, Pantai Senggigi Lombok
www.kebudayaanindonesia.info

Rabu, 11 Februari 2015


FANTASTIC TAMBORA '1815'.
Letusan Gunung Berapi Terdahsyat Didunia
 Hasil gambar untuk tambora

 Kronologi Letusan Gunung. (  ://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora )
Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi "tidur", yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup.[7] Di dalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.[7]
Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam.[2] Pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan.[16] Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.
Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat.[2] Tiga lajur api terpancar dan bergabung.[16] Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api.[16] Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal 11 dan 17 April 1815.[2]
Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.
Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index.[17] Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg.[4] Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6–7 km dan kedalaman 600–700 m.[2] Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m².[18] Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m,[2] salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.[19]
Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar dalam sejarah.[2][4] Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km.[2] Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

 

Akibat

Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang bercampur dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan jarak lintas melebihi 5 km.[2] Rakit batu apung lainnya ditemukan di Samudra Hindia, di dekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815.[4] Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli, walaupun emisi asap masih terlihat pada tanggal 23 Agustus. Api dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan Agustus tahun 1819, empat tahun setelah letusan.
Dalam perjalananku menuju bagian barat pulau, aku hampir melewati seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran terhadap penduduk yang berkurang memberikan pukulan hebat terhadap penglihatan. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda banyak lainnya telah terkubur: desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah roboh, penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.
...
Semenjak letusan, diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir, yang menyerang jumlah penduduk yang besar. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga meninggal, dalam jumlah yang besar untuk masalah yang sama.
—Letnan Philips diperintahkan Sir Stamford Raffles untuk pergi ke Sumbawa.[16]
Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April, dengan ketinggian di atas 4 m di Sanggar pada pukul 10:00 malam.[2] Tsunami setinggi 1–2 m dilaporkan terjadi di Besuki, Jawa Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku.
Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km.[4] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10–30 km.[2] Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815.[2] Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas.
Perkiraan kematian bervariasi, tergantung dari sumber yang ada. Zollinger (1855) memperkirakan 10.000 orang meninggal karena aliran piroklastik. Di pulau Sumbawa, terdapat 38.000 kematian karena kelaparan, dan 10.000 lainnya karena penyakit dan kelaparan di pulau Lombok.[20] Petroeschevsky (1949) memperkirakan sekitar 48.000 dan 44.000 orang terbunuh di Sumbawa dan Lombok.[21] Beberapa pengarang menggunakan figur Petroeschevsky, seperti Stothers (1984), yang menyatakan jumlah kematian sebesar 88.000 jiwa.[2] Tanguy (1998) mengklaim figur Petroeschevsky tidak dapat ditemukan dan berdasarkan referensi yang tidak dapat dilacak.[5] Tanguy merevisi jumlah kematian berdasarkan dua sumber, sumber dari Zollinger, yang menghabiskan beberapa bulan di Sumbawa setelah letusan dan catatan Raffles.[16] Tanguy menunjukan bahwa terdapat banyak korban di Bali dan Jawa Timur karena penyakit dan kelaparan. Diperkirakan 11.000 meninggal karena pengaruh gunung berapi langsung dan 49.000 oleh penyakit epidemi dan kelaparan setelah letusan.[5] Oppenheimer (2003) menyatakan jumlah kematian lebih dari 71.000 jiwa seperti yang terlihat di tabel dibawah.[4]
Perbandingan letusan gunung Tambora dan letusan gunung lainnya
Letusan Tahun Tinggi asap (km)  VEI  Perubahan musim panas Belahan bumi utara (°C) Kematian
Taupo 181 51 7  ? tidak diketahui
Baekdu 969 25 6–7  ?  ?
Kuwae 1452  ? 6 −0,5  ?
Huaynaputina 1600 46 6 −0,8 ≈1400
Tambora 1815 43 7 −0,5 > 71.000
Krakatau 1883 25 6 −0,3 36.600
Santamaría 1902 34 6 tidak terdapat perubahan 7.000-13.000
Katmai 1912 32 6 −0,4 2
Gunung St. Helens 1980 19 5 tidak terdapat perubahan 57
El Chichón 1982 32 4–5  ? > 2.000
Nevado del Ruiz 1985 27 3 tidak terdapat perubahan 23.000
Pinatubo 1991 34 6 −0,5 1202
Sumber: Oppenheimer (2003),[4] dan Smithsonian Global Volcanism Program untuk VEI.[22]

Pengaruh global


Jumlah konsentrasi sulfat di inti es dari Tanah Hijau tengah, tarikh tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991).[23]
Letusan gunung Tambora tahun 1815 mengeluarkan sulfur ke stratosfer, menyebabkan penyimpangan iklim global. Metode berbeda telah memperkirakan banyaknya sulfur yang dikeluarkan selama letusan: metode petrologi, sebuah pengukuran berdasarkan pengamatan anatomi, dan metode konsentrasi sulfat inti es, menggunakan es dari Tanah Hijau dan Antartika. Perkiraan beragam tergantung dari metode, antara 10 Tg S hingga 120 Tg S.[4]
Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering terlihat di timur laut Amerika Serikat. Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi cahaya matahari, seperti bintik pada matahari yang terlihat dengan mata telanjang. Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan "kabut" tersebut. "Kabut" tersebut diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfer.[4] Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C,[2] cukup untuk menyebabkan permasalahan pertanian di dunia. Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan di Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine.[4] Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara. Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.
1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masehi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.[17] Tahun 1810-an adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan Tambora tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun 1809 dan tahun 1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C,[17] dan juga musim panas yang lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami badai salju yang lebih deras.
Perubahan iklim disalahkan sebagai penyebab wabah tifus di Eropa Tenggara dan Laut Tengah bagian timur di antara tahun 1816 dan tahun 1819.[4] Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena gandum, haver dan kentang mengalami gagal panen. Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota di Eropa. Ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.[4]

Bukti arkeologi

Pada musim panas tahun 2004, tim dari Universitas Rhode Island, Universitas North Carolina di Wilmington, dan direktorat vulkanologi Indonesia, dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson, memulai sebuah penggalian arkeologi di gunung Tambora.[6] Setelah enam minggu, tim tersebut menggali bukti adanya kebudayaan yang hilang yang musnah karena letusan gunung Tambora.


Situs tersebut terletak 25 km sebelah barat kaldera, di dalam hutan, 5 km dari pantai. Tim tersebut harus melewati endapan batu apung vulkanik dan abu dengan tebal 3 m.
Tim tersebut menggunakan radar penembus tanah untuk mencari lokasi rumah kecil yang terkubur. Mereka menggali kembali rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk perunggu, peralatan besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi artifak memiliki kesamaan dengan artifak dari Vietnam dan Kamboja.[6] Uji coba dilakukan menggunakan teknik karbonisasi memperjelas bahwa mereka terbentuk dari pensil arang yang dibentuk oleh panas magma. Semua orang, rumah dan kebudayaan dibiarkan seperti saat mereka berada tahun 1815. Sigurdsson menyebut kebudayaan ini sebagai Pompeii dari timur.[24][25] Berdasarkan artifak yang ditemukan, yang mayoritas benda perunggu, tim menyatakan bahwa orang-orang tersebut tidak miskin. Bukti sejarah menunjukan bahwa orang di pulau Sumbawa terkenal di Hindia Timur untuk madu, kuda, kayu sepang (caesalpinia sappan), memproduksi dye merah, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan pengobatan.[6] Daerah ini diketahui produktif dalam bidang pertanian.
Penemua arkeologi memperjelas bahwa terdapat kebudayaan yang hancur karena letusan tahun 1815. Sebutan Kerajaan Tambora yang hilang disebut oleh media.[26][27] Dengan penemuan ini, Sigurdsson bermaksud untuk kembali ke Tambora tahun 2007 untuk mencari sisa desa, dan berharap dapat menemukan istana.[6]