FANTASTIC TAMBORA '1815'.
Letusan Gunung Berapi Terdahsyat Didunia
Kronologi Letusan Gunung. ( ://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora )
Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama
gunung berapi "tidur", yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam
dapur magma yang tertutup.
[7] Di dalam
dapur magma
dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cairan magma
bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi
magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5
kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.
[7]
Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam.
[2] Pada tanggal
5 April 1815, letusan terjadi, diikuti dengan suara
guruh yang terdengar di
Makassar,
Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini
Jakarta) di pulau
Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan
Ternate di
Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau
Sumatera pada tanggal
10-
11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan.
[16] Pada pagi hari tanggal
6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di
Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal
10 April 1815.
Pada pukul 7:00 malam tanggal
10 April, letusan gunung ini semakin kuat.
[2] Tiga lajur api terpancar dan bergabung.
[16] Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api.
[16]
Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00
malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran
piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi
semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai
sore tanggal
11 April. Abu menyebar sampai
Jawa Barat dan
Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal
11 dan
17 April 1815.
[2]
Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April,
mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan
jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama,
hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen
tentara bergerak dari Djocjocarta,
dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir,
perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah
kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.
Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala
Volcanic Explosivity Index.
[17] Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung
Krakatau tahun
1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik
trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×10
14 kg.
[4] Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6–7 km dan kedalaman 600–700 m.
[2] Massa jenis abu yang jatuh di
Makassar sebesar 636 kg/m².
[18] Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m,
[2] salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.
[19]
Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar dalam sejarah.
[2][4] Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km.
[2]
Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari
dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.
Akibat
Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang bercampur
dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan jarak
lintas melebihi 5 km.
[2] Rakit batu apung lainnya ditemukan di
Samudra Hindia, di dekat
Kolkata pada tanggal
1 dan
3 Oktober 1815.
[4] Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal
23 April. Ledakan berhenti pada tanggal
15 Juli, walaupun emisi asap masih terlihat pada tanggal
23 Agustus. Api dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan
Agustus tahun
1819, empat tahun setelah letusan.
Dalam perjalananku menuju bagian barat pulau, aku hampir melewati
seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran
terhadap penduduk yang berkurang memberikan pukulan hebat terhadap
penglihatan. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda banyak lainnya
telah terkubur: desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah
roboh, penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.
...
Semenjak letusan, diare
menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir, yang menyerang jumlah
penduduk yang besar. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu,
dan kuda juga meninggal, dalam jumlah yang besar untuk masalah yang
sama.
Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal
10 April, dengan ketinggian di atas 4 m di Sanggar pada pukul 10:00 malam.
[2] Tsunami setinggi 1–2 m dilaporkan terjadi di Besuki,
Jawa Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di
Maluku.
Tinggi asap letusan mencapai
stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km.
[4] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di
atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10–30 km.
[2]
Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat
terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat
di
London,
Inggris antara tanggal
28 Juni dan
2 Juli 1815 dan
3 September dan
7 Oktober 1815.
[2] Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas.
Perkiraan kematian bervariasi, tergantung dari sumber yang ada.
Zollinger (1855) memperkirakan 10.000 orang meninggal karena aliran
piroklastik. Di pulau Sumbawa, terdapat 38.000 kematian karena
kelaparan, dan 10.000 lainnya karena penyakit dan kelaparan di pulau
Lombok.
[20] Petroeschevsky (1949) memperkirakan sekitar 48.000 dan 44.000 orang terbunuh di Sumbawa dan Lombok.
[21]
Beberapa pengarang menggunakan figur Petroeschevsky, seperti Stothers
(1984), yang menyatakan jumlah kematian sebesar 88.000 jiwa.
[2] Tanguy (1998) mengklaim figur Petroeschevsky tidak dapat ditemukan dan berdasarkan referensi yang tidak dapat dilacak.
[5]
Tanguy merevisi jumlah kematian berdasarkan dua sumber, sumber dari
Zollinger, yang menghabiskan beberapa bulan di Sumbawa setelah letusan
dan catatan
Raffles.
[16] Tanguy menunjukan bahwa terdapat banyak korban di
Bali dan
Jawa Timur
karena penyakit dan kelaparan. Diperkirakan 11.000 meninggal karena
pengaruh gunung berapi langsung dan 49.000 oleh penyakit epidemi dan
kelaparan setelah letusan.
[5] Oppenheimer (2003) menyatakan jumlah kematian lebih dari 71.000 jiwa seperti yang terlihat di tabel dibawah.
[4]
Pengaruh global
Letusan gunung Tambora tahun 1815 mengeluarkan
sulfur ke
stratosfer,
menyebabkan penyimpangan iklim global. Metode berbeda telah
memperkirakan banyaknya sulfur yang dikeluarkan selama letusan: metode
petrologi, sebuah pengukuran berdasarkan pengamatan
anatomi, dan metode konsentrasi sulfat inti es, menggunakan es dari
Tanah Hijau dan
Antartika. Perkiraan beragam tergantung dari metode, antara 10 Tg S hingga 120 Tg S.
[4]
Pada musim semi dan musim panas tahun
1816, sebuah
kabut kering terlihat di timur laut
Amerika Serikat.
Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi cahaya matahari, seperti
bintik pada matahari yang terlihat dengan mata telanjang. Baik angin
atau hujan tidak dapat menghilangkan "kabut" tersebut. "Kabut" tersebut
diidentifikasikan sebagai
kabut aerosol sulfat stratosfer.
[4] Pada musim panas tahun
1816, negara di
Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai
Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C,
[2] cukup untuk menyebabkan permasalahan pertanian di dunia. Pada tanggal
4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan di
Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh
New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal
6 Juni 1816, salju turun di
Albany, New York, dan
Dennysville, Maine.
[4] Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara.
Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat
Kota Quebec dari tanggal
6 sampai
10 Juni 1816.
1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masehi, setelah letusan gunung
Huaynaputina di
Peru tahun
1600.
[17] Tahun
1810-an
adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan Tambora
tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun
1809 dan tahun
1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun
1816,
1817 dan tahun
1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C,
[17] dan juga musim panas yang lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami badai salju yang lebih deras.
Perubahan iklim disalahkan sebagai penyebab
wabah tifus di Eropa Tenggara dan
Laut Tengah bagian timur di antara tahun
1816 dan tahun
1819.
[4] Banyak ternak meninggal di
New England selama musim dingin tahun
1816-
1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di
Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di
Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di
Irlandia utara dan barat daya karena
gandum,
haver dan
kentang mengalami gagal panen. Krisis terjadi di
Jerman,
harga makanan naik dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak
diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko
roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang
terjadi di banyak kota-kota di
Eropa. Ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.
[4]
Bukti arkeologi
Pada musim panas tahun
2004, tim dari
Universitas Rhode Island,
Universitas North Carolina di Wilmington, dan direktorat vulkanologi Indonesia, dipimpin oleh
Haraldur Sigurdsson, memulai sebuah penggalian arkeologi di gunung Tambora.
[6] Setelah enam minggu, tim tersebut menggali bukti adanya
kebudayaan yang hilang yang musnah karena letusan gunung Tambora.

Situs tersebut terletak 25
km sebelah barat kaldera, di dalam hutan, 5
km dari pantai. Tim tersebut harus melewati endapan batu apung vulkanik dan abu dengan tebal 3
m.
Tim tersebut menggunakan
radar penembus tanah
untuk mencari lokasi rumah kecil yang terkubur. Mereka menggali kembali
rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk
perunggu, peralatan besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi
artifak memiliki kesamaan dengan artifak dari
Vietnam dan
Kamboja.
[6] Uji coba dilakukan menggunakan teknik karbonisasi memperjelas bahwa mereka terbentuk dari
pensil arang yang dibentuk oleh panas
magma. Semua orang, rumah dan kebudayaan dibiarkan seperti saat mereka berada tahun
1815. Sigurdsson menyebut kebudayaan ini sebagai
Pompeii dari timur.
[24][25]
Berdasarkan artifak yang ditemukan, yang mayoritas benda perunggu, tim
menyatakan bahwa orang-orang tersebut tidak miskin. Bukti sejarah
menunjukan bahwa orang di pulau Sumbawa terkenal di
Hindia Timur untuk
madu,
kuda,
kayu sepang (
caesalpinia sappan), memproduksi
dye merah, dan
cendana yang digunakan untuk
dupa dan pengobatan.
[6] Daerah ini diketahui produktif dalam bidang pertanian.
Penemua arkeologi memperjelas bahwa terdapat kebudayaan yang hancur karena letusan tahun 1815. Sebutan
Kerajaan Tambora yang hilang disebut oleh media.
[26][27] Dengan penemuan ini, Sigurdsson bermaksud untuk kembali ke Tambora tahun
2007 untuk mencari sisa desa, dan berharap dapat menemukan istana.
[6]