Rabu, 11 Februari 2015


FANTASTIC TAMBORA '1815'.
Letusan Gunung Berapi Terdahsyat Didunia
 Hasil gambar untuk tambora

 Kronologi Letusan Gunung. (  ://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora )
Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi "tidur", yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup.[7] Di dalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.[7]
Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam.[2] Pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan.[16] Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.
Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat.[2] Tiga lajur api terpancar dan bergabung.[16] Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api.[16] Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal 11 dan 17 April 1815.[2]
Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.
Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index.[17] Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg.[4] Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6–7 km dan kedalaman 600–700 m.[2] Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m².[18] Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m,[2] salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.[19]
Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar dalam sejarah.[2][4] Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km.[2] Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

 

Akibat

Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang bercampur dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan jarak lintas melebihi 5 km.[2] Rakit batu apung lainnya ditemukan di Samudra Hindia, di dekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815.[4] Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli, walaupun emisi asap masih terlihat pada tanggal 23 Agustus. Api dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan Agustus tahun 1819, empat tahun setelah letusan.
Dalam perjalananku menuju bagian barat pulau, aku hampir melewati seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran terhadap penduduk yang berkurang memberikan pukulan hebat terhadap penglihatan. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda banyak lainnya telah terkubur: desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah roboh, penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.
...
Semenjak letusan, diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir, yang menyerang jumlah penduduk yang besar. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga meninggal, dalam jumlah yang besar untuk masalah yang sama.
—Letnan Philips diperintahkan Sir Stamford Raffles untuk pergi ke Sumbawa.[16]
Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April, dengan ketinggian di atas 4 m di Sanggar pada pukul 10:00 malam.[2] Tsunami setinggi 1–2 m dilaporkan terjadi di Besuki, Jawa Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku.
Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km.[4] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10–30 km.[2] Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815.[2] Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas.
Perkiraan kematian bervariasi, tergantung dari sumber yang ada. Zollinger (1855) memperkirakan 10.000 orang meninggal karena aliran piroklastik. Di pulau Sumbawa, terdapat 38.000 kematian karena kelaparan, dan 10.000 lainnya karena penyakit dan kelaparan di pulau Lombok.[20] Petroeschevsky (1949) memperkirakan sekitar 48.000 dan 44.000 orang terbunuh di Sumbawa dan Lombok.[21] Beberapa pengarang menggunakan figur Petroeschevsky, seperti Stothers (1984), yang menyatakan jumlah kematian sebesar 88.000 jiwa.[2] Tanguy (1998) mengklaim figur Petroeschevsky tidak dapat ditemukan dan berdasarkan referensi yang tidak dapat dilacak.[5] Tanguy merevisi jumlah kematian berdasarkan dua sumber, sumber dari Zollinger, yang menghabiskan beberapa bulan di Sumbawa setelah letusan dan catatan Raffles.[16] Tanguy menunjukan bahwa terdapat banyak korban di Bali dan Jawa Timur karena penyakit dan kelaparan. Diperkirakan 11.000 meninggal karena pengaruh gunung berapi langsung dan 49.000 oleh penyakit epidemi dan kelaparan setelah letusan.[5] Oppenheimer (2003) menyatakan jumlah kematian lebih dari 71.000 jiwa seperti yang terlihat di tabel dibawah.[4]
Perbandingan letusan gunung Tambora dan letusan gunung lainnya
Letusan Tahun Tinggi asap (km)  VEI  Perubahan musim panas Belahan bumi utara (°C) Kematian
Taupo 181 51 7  ? tidak diketahui
Baekdu 969 25 6–7  ?  ?
Kuwae 1452  ? 6 −0,5  ?
Huaynaputina 1600 46 6 −0,8 ≈1400
Tambora 1815 43 7 −0,5 > 71.000
Krakatau 1883 25 6 −0,3 36.600
Santamaría 1902 34 6 tidak terdapat perubahan 7.000-13.000
Katmai 1912 32 6 −0,4 2
Gunung St. Helens 1980 19 5 tidak terdapat perubahan 57
El Chichón 1982 32 4–5  ? > 2.000
Nevado del Ruiz 1985 27 3 tidak terdapat perubahan 23.000
Pinatubo 1991 34 6 −0,5 1202
Sumber: Oppenheimer (2003),[4] dan Smithsonian Global Volcanism Program untuk VEI.[22]

Pengaruh global


Jumlah konsentrasi sulfat di inti es dari Tanah Hijau tengah, tarikh tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991).[23]
Letusan gunung Tambora tahun 1815 mengeluarkan sulfur ke stratosfer, menyebabkan penyimpangan iklim global. Metode berbeda telah memperkirakan banyaknya sulfur yang dikeluarkan selama letusan: metode petrologi, sebuah pengukuran berdasarkan pengamatan anatomi, dan metode konsentrasi sulfat inti es, menggunakan es dari Tanah Hijau dan Antartika. Perkiraan beragam tergantung dari metode, antara 10 Tg S hingga 120 Tg S.[4]
Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering terlihat di timur laut Amerika Serikat. Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi cahaya matahari, seperti bintik pada matahari yang terlihat dengan mata telanjang. Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan "kabut" tersebut. "Kabut" tersebut diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfer.[4] Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C,[2] cukup untuk menyebabkan permasalahan pertanian di dunia. Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan di Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine.[4] Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara. Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.
1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masehi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.[17] Tahun 1810-an adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan Tambora tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun 1809 dan tahun 1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C,[17] dan juga musim panas yang lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami badai salju yang lebih deras.
Perubahan iklim disalahkan sebagai penyebab wabah tifus di Eropa Tenggara dan Laut Tengah bagian timur di antara tahun 1816 dan tahun 1819.[4] Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena gandum, haver dan kentang mengalami gagal panen. Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota di Eropa. Ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.[4]

Bukti arkeologi

Pada musim panas tahun 2004, tim dari Universitas Rhode Island, Universitas North Carolina di Wilmington, dan direktorat vulkanologi Indonesia, dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson, memulai sebuah penggalian arkeologi di gunung Tambora.[6] Setelah enam minggu, tim tersebut menggali bukti adanya kebudayaan yang hilang yang musnah karena letusan gunung Tambora.


Situs tersebut terletak 25 km sebelah barat kaldera, di dalam hutan, 5 km dari pantai. Tim tersebut harus melewati endapan batu apung vulkanik dan abu dengan tebal 3 m.
Tim tersebut menggunakan radar penembus tanah untuk mencari lokasi rumah kecil yang terkubur. Mereka menggali kembali rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk perunggu, peralatan besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi artifak memiliki kesamaan dengan artifak dari Vietnam dan Kamboja.[6] Uji coba dilakukan menggunakan teknik karbonisasi memperjelas bahwa mereka terbentuk dari pensil arang yang dibentuk oleh panas magma. Semua orang, rumah dan kebudayaan dibiarkan seperti saat mereka berada tahun 1815. Sigurdsson menyebut kebudayaan ini sebagai Pompeii dari timur.[24][25] Berdasarkan artifak yang ditemukan, yang mayoritas benda perunggu, tim menyatakan bahwa orang-orang tersebut tidak miskin. Bukti sejarah menunjukan bahwa orang di pulau Sumbawa terkenal di Hindia Timur untuk madu, kuda, kayu sepang (caesalpinia sappan), memproduksi dye merah, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan pengobatan.[6] Daerah ini diketahui produktif dalam bidang pertanian.
Penemua arkeologi memperjelas bahwa terdapat kebudayaan yang hancur karena letusan tahun 1815. Sebutan Kerajaan Tambora yang hilang disebut oleh media.[26][27] Dengan penemuan ini, Sigurdsson bermaksud untuk kembali ke Tambora tahun 2007 untuk mencari sisa desa, dan berharap dapat menemukan istana.[6]

Kamis, 02 Oktober 2014

TAMBORA & BICENTENARY


fantastictambora.blogspot.com/TAMBORA'NEWS'PALANTA/fantasticNEWSpalanta


  TERIMA KASIH : 
  Bapak Saiful Bahri, K-PATA & TAMBORA TREKKING CENTRE
  Bapak Junaidi, DisBudPar. Prov.NTB
  Ridha, Patiroi BPPD NTB
  WIKIPEDIA,
  Semua Pihak Yang Telah Men'support' ke Hadiran Blog ini dihadapan pembaca, Salam
      https://www.birotiket.com/?id=JAYA0027        
  http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora
http://www.pulaumoyo.com/konservasi.html
Gunung Tambora sebagai icon Pulau Sumbawa yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), kini akan meperingati dua abad letusannya pada April 2015. Tema besar yang angkat adalah Tambora Menyapa Dunia 2015.
Letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang lalu sanggup menggemparkan dunia. Sekarang Tambora sedang berbenah menju Geopar Nasional, diawali dengan perubahan status dari Kawasan Konservasi menjadi Kawasan Taman Nasional.
Aksipun telah dimuali, tahun 2014 ini akan segera berubah statusnya sembari menyiapkan dokumen menjadi Geopark Nasional. - See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/tambora-menyapa-dunia/#sthash.XoKbQo4S.dpuf
Gunung Tambora
SEKILAS TENTANG TAMBORA

LOKASI :
Gunung Tambopra terletak di semenanjung pulau Sumbawa bagian utara, dan secara geografis berada pada posisi 08 - 15 LS dan 118 - 00 BT. Seluruhnya termasuk dalam wilayah kabupaten Dompu dan kabupaten Bima. Namun seluruh bagian puncaknya ( CALDERA ) terletak dalam wilayah kabupaten Bima tetapi untuk mencapai puncaknya melalui dusun pancasila desa Tambora kecamatan Pekat kabupaten Dompu.
Lokasi Tambora
Gunung Tambora merupakan gunung berapi yang aktif strato tipe A dengan ketinggian 2851 mdpl. Memiliki caldera dengan garis tengah bibir sekitar 7 km dan dasar kawah 3500 x 4000 M serta mempunyai kedalaman mencapai 950 M. pada dasar kawah bagian selatan terdapat kerucut parasit bergaris tengah mencapai 100 M dengan ketinggian 10 M yang disebut "Doro Afi To'i" ( Gunung Api Kecil ) yang merupakan pusat kegiatan/aktivitas gunung api Tambora yang aktif saat ini.

SEJARAH :
Sebelum letusan th 1815 ada tiga kerajaan kecil yaitu Kerajaan Pekat, Kerajaan Sanggar dan Kerajaan Tambora disekitar Gunung Tambora, saat ini desa Pekat berstatus desa dari kecamatan Pekat kabupaten Dompu, sanggar adalah ibukota dari kecamatan sanggar kabupaten Bima, bekas kerajaan Tambora terletak disebelah timur gunung api Tambora tidak jauh dari Sanggar ( sebelah timur Donggo Tabe To'i ) berjarak sekitar 25 KM dari puncak gunung Tambora dan sekarang tidak ditemukan lagi bekas kerajaan tersebut. Bekas kerajaan Pekat terletak 30 KM dari sebelah barat gunung api Tambora dari arah Tambora terlindung bukit-bukit tua, dan bekas kerajaan Sanggar terletak agak jauh lebih dari 35 KM disebelah timur tenggara gunung api Tambora letaknya tersembunyi dibalik Gunung Labumbu, namun akibat letusan th 1815 kota ini hampir musnah. Gunung Tambora diperkirakan lebih dari 4000 MDPL, peristiwa pada tgl 5 April th 1815 yaitu letusan gunung Tambora merupakan letusan terbesar dalam sejarah. Letusan dahsyat gunung tersebut telah menyemburkan material terbanyak dalam sejarah manusia diperkirakan sebanyak 36 Mil Kubik menciptakan kawah dengan diameter 7 Km dengan kedalaman 950 M dan keliling kawah 16 Km. Ledakan dahsyat tersebut menyebabkan gunung tambora dengan ketinggian diatas 4000 MDPL menjadi 2851 MDPL. Suara letusan ( Dentuman ) paroksismal demikian hebatnya hingga terdengar sampai Jakarta ( 1250 Km ) dan Ternate ( 1400 Km ) ujan abu pertama jatuh di Besuki Jawa Timur pada tanggal 10 dan 11 April th 1815 dentuman letusan Tambora terdengar sampai kepulauan Bangka ( 1175 Km ) dan Bengkulu ( 1500 Km ) dan gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan gunung terdengar sampai Surabaya ( 600 Km ) debu halus yang di semburkan dari letusan gunung Tambora menutupi langit di wilayah yang luas sekali dengan radius 200 Mil yang mengakibatkan daerah tersebut menjadi hujan abu dikawasan seluas 900 Mil. Hal yang menarik dari peristiwa ini adalah lapisan debu yang menyemburkan ternyata telah menghambat sinar matahari untuk mencapai bumi yang mengakibatkan terjadinya perubahan musim secara tiba-tiba di beberapa bagian bumi dan temperatur udara mengalami perubahan derastis di seantero dunia. Pada musim panas th 1815 di belahan bumi sebelah utara menjadi musim dingin karna kurangnya sinar matahari yang mampu menembus ke bumi. Masyarakat di pulau sumbawa mengalami kelaparan, tanah pertanian tertutup debu dan tidak bisa di olah dalam waktu singkat sekitar 70.000 - 80.000 penduduk tewas karna kelaparan yang melanda pulau Sumbawa dan Lombok.

PESONA ALAM GUNUNG TAMBORA :
Gunung Tambora memiliki daya pesona yang luar bisa untuk pengunjung domestik maupun mancanegara. Diantara pesona alamnya yang mampu mengikat hati wisata domestic dan mancanegara yaitu kawahnya yang sangat lebar dengan ( diameter 7 Km dan keliling 16 Km serta kedalaman 950 Km ),





 

sehingga kawah gunung Tambora dikenal dengan " The Greatest Couldron in Indonesia " ( kawah terbesar di Indonesia ) dan letusan terdahsyat di dunia. Selain itu keindahan gunung Tambora lainnya adalah padang pasir luas di sepanjang bibir kawah yang di tumbuhi bunga Edeweis kerdil sekitar 0,5 M - 1,5 M dengan jarak masing-masing sekitar 2 M - 100 M , juga danya keindahan batu-batuan berlapis dan pada bagian atasnya datar seperti meja menjadikan fenomena alam yang menajubkan. Kenudian pemandangan lain yang tak kalah menarik adalah keindahan pemandangan laut, pulau Satonda, padang pasir yang luas dan terlihatnya puncak gunung rinjani yang berada di pulau Lombok

MISTERI GUNUNG TAMBORA :
Asal mula nama gunung Tambora yang berdasarkan cerita turun temurun adalah berasal dari kata TA dan MBORA dalam bahasa Bima kata TA berarti mengajak sedangkan kata MBORA berati menghilang sehingga kata Tambora diartikan " mengajak untuk menghilang ". konon ceritanya dulu kala ada seorang yang sakti yang pertama kali ke gunung tersebut ( sekarang disebut gunung Tambora ) bertapa dan tidak ditemukan lagi karna menghilang di gunung tersebut dengan istilah Moksa ( Menghilang jasadnya ) secara tiba-tiba dan cuma bisa dilihat oleh orang tertentu yang mempunyai kemampuan dalam melihat roh halus, konon orang sakti yang menghilang tersebut pernah menampakkan diri di sebuah pulau yang terletak di sebelah barat laut dan juga dapat terlihat dari puncak gunung Tambora, maka pulau tersebut dinamai dengan pulau Satonda yang berasal dari kata TONDA ( tanda atau jejak kaki ) kalau dilihat dari puncak gunung Tambora terlihat bagai berbentuk telapak kaki kanan manusia.
                                                                         

 Pulau Satonda

Pulau satonda mempunyai pemandangan yang sangat indah diantaranya yaitu adanya danau yang sangat jernih terletak di tengah-tengah pulau tersebut dan di kelilingi oleh tebing-tebing dan perbukitan yang masih sangat alami. Pulau Satonda juga memiliki pemandangan biota laut yang sangat indah dan banyaknya para Diving yang datang untuk menyelam baik dari wisata domestic maupun mancanegara.
Pulau Satonda dengan ketinggian antara 0 - 300 MDPL merupakan taman rekreasi ( recreation park ) dengan wilayah seluas 1000 Ha mempunyai ciri-ciri yang unik. Sekarang pulau tersebut telah menjadi kawasan wisata yang dilindungi ( Strict Nature Reserve ). dan sangat baik untuk penelitian hutan karena akibat letusan gunung Tambora th 1815 serta di huni oleh sejumlah habitat jenis burung yang di lindung. Pesona alam gunung Tambora dan pulau Satonda menambah kasanah keindahan dan keelokan panorama alam Indonesia yang menjadi satu kesatuan dan menciptakan suatu fenomena nan indah dan unik untuk kita lestarikan menjadi objek wisata dan penelitian bagi keunggulan pariwisata di pulau Sumbawa.

Satonda Lake
Gunung Tambora sebagai icon Pulau Sumbawa yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), kini akan meperingati dua abad letusannya pada April 2015. Tema besar yang angkat adalah Tambora Menyapa Dunia 2015.
Letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang lalu sanggup menggemparkan dunia. Sekarang Tambora sedang berbenah menju Geopar Nasional, diawali dengan perubahan status dari Kawasan Konservasi menjadi Kawasan Taman Nasional.
Aksipun telah dimuali, tahun 2014 ini akan segera berubah statusnya sembari menyiapkan dokumen menjadi Geopark Nasional. - See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/tambora-menyapa-dunia/#sthash.XoKbQo4S.dpuf
Gunung Tambora sebagai icon Pulau Sumbawa yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), kini akan meperingati dua abad letusannya pada April 2015. Tema besar yang angkat adalah Tambora Menyapa Dunia 2015.
Letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang lalu sanggup menggemparkan dunia. Sekarang Tambora sedang berbenah menju Geopar Nasional, diawali dengan perubahan status dari Kawasan Konservasi menjadi Kawasan Taman Nasional.
Aksipun telah dimuali, tahun 2014 ini akan segera berubah statusnya sembari menyiapkan dokumen menjadi Geopark Nasional. - See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/tambora-menyapa-dunia/#sthash.XoKbQo4S.dpu
 PULAU MOYO
Lokasi 'Pulau Moyo' berada di sebelah Barat Gunung Tambora 'utara Pulau Sumbawa'. Secara astronomis, Pulau Moyo berada pada 117º27’43” - 117º35’42” Bujur Timur dan 8º9’36” - 8º23’19” Lintang Selatan, sebagai kawasan Konservasi Taman Buru dan Taman Wisata Alam Laut melalui SK Menteri Kehutanan No.308/Kpts-II/1986 tanggal 29 September 1986 dengan luas 22.250 Ha Taman Buru dan 6000 Ha Taman Wisata Alam Laut. pengelolaan Kawasan Konservasi ini dilakukan oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia c.q Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat.
Iklim di Pulau Moyo umumnya beriklim tropis, Curah hujan antara 1250 mm/th di daerah rendah dan 1500-2000 mm/th di daerah dataran tinggi. Jenis tanah Regosol kelabu dan Litosol bahan induk abu vulkanis intermediate. Keadaan perairan di Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo mempunyai dasar perairan yang landai. Wilayah dasar perairan yang dangkal umumnya ditumbuhi berbagai jenis koloni karang dengan pola penyebaran yang bervariasi antara mengelompok dan patchy coral serta merupakan habitat berbagai biota karang. Selain itu dibagian antara koloni karang yang kosong merupakan substrat berpasir sedikit berbatu. Kondisi airnya secara umum jernih dan khususnya dibagian yang dangkal penetrasi sinar matahari dapat mencapai dasar perairan, hal tersebut memungkinkan pertumbuhan berbagai biota dasar perairan menjadi subur. Adapun pola arus nampaknya cenderung dipengaruhi oleh keadaan laut sekitarnya seperti cuaca, tinggi gelombang dan pasang surut. Selain itu di bagian selatan Pulau moyo arus laut umumnya relatif deras mengingat daerah tersebut merupakan selat antara Pulau Moyo dan daratan Pulau Sumbawa.
Mengingat letak Pulau Moyo yang strategis karena terletak diantara obyek wisata lain seperti Gili Matra (Lombok), TWA Pulau Satonda (Bima-Dompu) dan Taman Nasional Komodo. Pulau Moyo merupakan daerah wisata yang cukup potensial untuk dikembangkan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara,

    https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRWF9O-Rr6Jzjr_TcMfTWlwO8Oq1dwIHVcCa6RFm1jUZSJJnINL

Kawasan 'Taman Buru' Pulau Moyo mempunyai potensi keanekaragaman hayati cukup tinggi baik flora maupun fauna. Tipe vegetasinya merupakan vegetasi hutan pantai dataran rendah yang terdiri dari vegetasi pohon – pohonan, perdu / semak belukar dan padang savana yang luas. Selain satwa yang telah ditetapkan sebagai satwa buru seperti Rusa timor ( Cervus timorensis ), Sapi liar ( Bos javanicus ) dan Babi hutan (Sus sp), berbagai jenis burung yang tergolong langka dan dilindungi Undang – undang juga terdapat disini seperti Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), Burung Gosong (Megapodius reinwartditii), Koakiau (Philemon buceroides), Beo Sumbawa (Gracula religiosa venerate) serta berbagai jenis burung lainnya seperti Punglor (Zoothera sp), Ayam Hutan (Gallus sp), Elang bondol ( Haliastur Indus ) dan sebagainya.
 Disamping keaneka ragaman hayati tersebut terdapat juga beberapa obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) seperti air terjun berundak Mata Jitu yang terdapat di bagian barat Pulau Moyo yang dapat diakses melalui desa Labuan Aji. Di beberapa tempat seperti ai manis dan tanjung pasir terdapat goa – goa yang merupakan habitat dari kalelawar dan burung wallet ( Collocalia sp). Dengan potensi pantai dan keadaan perairan serta potensi yang ada didalamnya, dapat dimanfaatkan atau dikembangkan sebagai tempat berwisata seperti memancing, snorkeling, bersampan, menyelam dan sebagainya. Daya tarik wisata lain yang terdapat di Pulau Moyo adalah hamparan savana yang terdapat dilokasi Raja Sua dapat dilakukan kegiatan penjelajahan / penyusuran hutan, pengamatan burung (Bird Watching) dan merupakan lokasi yang tepat untuk melakukan wisata buru yang dilakukan dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

fantastictambora.blogspot.com
Gunung Tambora sebagai icon Pulau Sumbawa yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), kini akan meperingati dua abad letusannya pada April 2015. Tema besar yang angkat adalah Tambora Menyapa Dunia 2015.
Letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang lalu sanggup menggemparkan dunia. Sekarang Tambora sedang berbenah menju Geopar Nasional, diawali dengan perubahan status dari Kawasan Konservasi menjadi Kawasan Taman Nasional.
Aksipun telah dimuali, tahun 2014 ini akan segera berubah statusnya sembari menyiapkan dokumen menjadi Geopark Nasional. - See more at: http://www.disbudpar.ntbprov.go.id/tambora-menyapa-dunia/#sthash.XoKbQo4S.dpu